Online 14 Pengunjung

Frontpage Slideshow (version 2.0.0) - Copyright © 2006-2008 by JoomlaWorks
Selamat datang di Website Resmi Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar.      Bergabunglah bersama kami, Komunitas untuk mendapatkan berbagai informasi seputar budaya serta wisata yang ada di Tanah Mandar.

Home Budaya Asal Mula Bahasa Koneq Koneqe Yang Berkembang Di Campalagian Polewali Mandar

Asal Mula Bahasa Koneq Koneqe Yang Berkembang Di Campalagian Polewali Mandar PDF Cetak E-mail
oleh S. Mursalin   
Sabtu, 21 September 2013 21:01 | Tampil : 354 kali.

Wacana ini saya tulis sebagai  seorang yang Lahir di Campalagian dan bentuk keprihatinan atas  sebuah tulisan di sebuah blog yang mengatakan bahwa bahasa Koneq-Koneq hampir punah dan hanya di Desa Bondeq Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar yang menjadi penutur. Padahal penuturnya masih cukup banyak di daerah-daerah lain yang tersebar di kecamatan Campalagian itu sendiri contohnya di Desa Parappeq atau Banua Baru, Desa Passairang, Desa Katumbangan Lemo, Desa Buku, Desa Panyampa dan termasuk Desa Bondeq.

asal mula bahasa koneq koneqe

Ilustrasi bahasa koneq-koneqe

Bahasa Campalagian atau biasa disebut bahasa koneq-koneqe ternyata memiliki sejarah yang amat unik. Dilihat dari letak Desa Campa (red. Campalagian) yang berada di wilayah Polewali Mandar, seharusnya masyarakat Campa menggunakan bahasa Mandar. Tapi ternyata tidak. Mereka memiliki bahasa sendiri yang sangat jauh berbeda dengan bahasa Mandar, dan menurut penelitian Bahasa Koneq-koneq adalah Bahasa dialek ketujuh dari bahasa Bugis, bahasa ini adalah asimilasi antara bahasa Bugis dan bahasa Mandar dan fakta inilah yang menjelaskan mengapa sampai daerah Campalagian berbeda dengan bahasa-bahasa lainnya di daerah Mandar.

Campalagian yang sekarang telah menjadi sebuah kecamatan di Polewali Mandar, dahulu dikenal dengan nama Tomadio, disebut Tomadio jika diartikan secara harafiah berarti “Orang yang sejak dulunya menetap dan beranak-pinak di daerah itu”. Istilah ini diberikankan oleh salah satu Maraqdia ( Raja ) yang pada saat itu menjadi Pemimpin sebuah kerajaan yang bernama Arajang Tie-tie ( kerajaan Tie-tie ), kerajaan sebelum besarnya kerajaan Balanipa yang beribu kota di Desa Suruang kecamatan Campalagian saat ini.

Dikisahkan saat itu masih jaman kerajaan, suatu hari terjadi perebutan kekuasaan antara kakak beradik yang ingin menggantikan tahta ayahnya sebagai raja yang telah meninggal. Pemilihan pun dilakukan, namun karena sang kakak mempunyai watak keras, sombong dan serakah maka tidak ada rakyat yang mendukung. Sebaliknya sang adik yang baik hati dan dermawan didukung penuh oleh rakyat di Cempalagi (Cempalagi adalah sebuah nama gunung yang terletak di pesisir teluk Bone. Tepatnya di Desa Mallari Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone, kira-kira 14 km di sebelah utara kota Watampone).

Sang kakak pun marah karena tidak terima dikalahkan oleh adik kandungnya sendiri. Ia pun berniat membunuh sang adik. Berkat ketulusan sang adik, ia berniat untuk mundur menjadi raja dan menerima kalau kakaknya yang menjadi raja. Namun sang kakak sudah kadung marah, sehingga ia tetap tidak terima keputusan adiknya itu. Akhirnya sang adik dan semua rakyat yang mendukungnya memutuskan untuk kabur dari daerah Cempalagi menuju daerah yang aman. Sang kakak ternyata tetap mengejar karena dendam terhadap adik dan semua rakyat yang ikut dengan adiknya.

Akhirnya sang adik tiba di perbatasan Kerajaan Tie-tie (yang saat itu dibatasi oleh jembatan Mapilli) berharap akan mendapat perlindungan dari Raja Balanipa karena ia tau kakaknya tidak mungkin masuk ke kekuasaan kerajaan lain. Dan ternyata sang adik dan pengikutnya disambut baik oleh Raja Tie-tie ( bukan Raja Balanipa menurut Wacana tersebut karena Orang Bugis yang datang ke daerah tersebut sudah menetap sebelum besarnya kerajaan Balanipa dan tentu saja sebelum adanya Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ulunna Binanga).

Selang beberapa lama RajaTie-tie akhirnya memutuskan untuk memberikan satu wilayahnya kepada sang adik dan pengikutnya asalkan mereka tidak mengembangkan kekuatan perang dan harus patuh kepada Arajang Tie-tie. Sang adik dan pengikutnya setuju dan gembira dengan keputusan Maraqdia Tie-tie tersebut. Akhirnya mereka semua tinggal dan menetap di wilayah itu diberi nama Tomadio dan selanjutnya menjadi Campalagian.

Nah, maka dari itu tidak heran mengapa sekarang masyarakat di sebahagian daerah di Campalagian hingga kini menggunakan bahasa koneq-koneqe yang tidak lain adalah bahasa Bugis dialek ke tujuh. Tetapi juga tetap masyarakat Campalagian mengerti bahasa Nasional mereka yaitu bahasa Mandar.


Penulis :

s mursalinS. Mursalin, pencinta dunia budaya Mandar, menyukai dunia desain grafis, alumnus Universitas Assyariah Mandar (UNASMAN) Kab. Polewali Mandar, pernah aktif sebagai ketua di unit kegiatan Mahasiswa Taekwondo UNASMAN.

Kontak Saya :

facebook : https://www.facebook.com/profile.php?id=100004089408809

 

 

Beri Komentar

Security code
Refresh



Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar - Kompa Dansa Mandar
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Album Picasa || Saluran Youtube
Desain - Copyright © 2013-2014